Fenomena Social Distancing

- 2 mins

Work From Home

Pembatasan Social di Jakarta mulai berlaku sekitar bulan Maret. Semenjak itu aku lihat banyak teman-temanku mulai bekerja dari rumah, termasuk teman-teman yang tidak bekerja di satu perusahaan yang sama denganku. Nah, disini mulai bermunculan fenomena unik, banyak yang mulai belajar hal baru kayak mencoba resep baru, mencoba berbisnis, dan ada juga yang mulai kembali menekuni hobi lamanya. Mungkin karena selama work from home kita punya lebih banyak waktu, tidak perlu menghabiskan waktu untuk bersiap-siap, berangkat ke kantor, bahkan saat jam kerja selesai pun kita sudah ada di rumah.

Sejujurnya aku merasa kalau fenomena ini bagus, bagus banget malahan. Tapi tau tidak sih dibalik positifnya fenomena ini, ada fenomena lain yang justru tidak positif? Pandemi ini membuat kita sadar bahwa kita sering lupa untuk peduli dengan diri kita sendiri.

Aku yakin kalau kamu buka Instagram selama work from home, kamu bakal lihat isi story teman-teman kamu yang berbagi keseruannya selama bekerja dari rumah. Di saat yang bersamaan ada yang dalam hati bertanya “Kenapa hidup temanku enak banget ya?”, bisa jadi kamu salah satunya. Bukannya merasa termotivasi, kita justru jadi sibuk merapikan feed Instagram dan terus bertanya hal yang sama sampai sampai tumbuh rasa iri dalam hati.

Atau kalau kamu buka LinkedIn, kamu bakal lihat foto sertifikat online course bertebaran disana. Setelah melihat teman memposting sertifikat, bukannya kita malah senang dengan pencapaian teman kita, kita malah merasa kalah dari teman kita sembari bertanya “Kenapa aku tidak bisa sehebat dia ya?”. Bahkan kamu mungkin saja melihat quote-quote berbau toxic positivity bertebaran disana.

“Kalau setelah masa kerja dari rumah ini kamu tidak punya skill baru, kamu salah memanfaatkan waktumu”, begitu katanya.

Padahal kebijakan work from home dibuat supaya kita bisa menjaga kesehatan fisik kita, tapi kenapa mental kita malah lupa kita jaga?

Disini tandanya kita sudah lupa. Kita lupa kalau media sosial bukan tolak ukur hidup kita. Kita terlalu banyak menghabiskan waktu membandingkan hidup kita.

Kenyataannya, kita semua punya jalan masing-masing menuju kebahagiaan kita. Kita ga bisa membandingkan cerita hidup kita dengan teman kita.

Kondisi hidup kita semua berbeda-beda, tidak bisa serta-merta kita bandingkan. Ada yang hidup di kondisi yang lebih beruntung, punya banyak waktu untuk mengasah skill.

Ada juga yang dalam kondisi berat yang tanggung jawabnya lebih banyak. Ada juga yang berada dalam lingkungan yang tidak suportif. Tidak semua orang bisa menyelesaikan hal yang sama kalau kita berada di kondisi yang berbeda.

Teman, tolong jaga kesehatan fisik dan mentalmu. Sayangi dirimu. Hidup ini tidak ada ukuran pastinya. Tidak perlu membandingkan satu sama lain.

Kalau selama ini kamu sibuk dengan urusanmu, tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri, maafkan dirimu.

Hidup saja dengan fokus pada hal yang bisa kita lakukan. Kalau kamu merasa kesusahan, tidak perlu sungkan meminta bantuan teman & keluarga. Hal yang wajar kalau kita meminta bantuan orang lain, tidak semua hal bisa kita selesaikan sendiri.


Kalau kamu sudah selesai membaca ini. Sekarang, temukan kebahagiaan kamu dengan jalanmu sendiri. Berhenti membandingkan diri dan berhenti memenuhi tuntutan orang lain yang tidak masuk akal. Kamu adalah orang yang hebat!

Photo by Andrew Neel on Unsplash

Made Indra

Made Indra

Still learning to be a better developer

comments powered by Disqus
rss facebook twitter github gitlab youtube mail spotify lastfm instagram linkedin google google-plus pinterest medium vimeo stackoverflow reddit quora quora adplist